Social Icons

Selasa, 15 Februari 2011

Mutiara kecilku...


Mungkin tak banyak orang tahu bahwa dulu aku pernah memilikimu. Tak banyak pula orang yang tahu bahwa aku menyayangimu. Bahkan kamu sendiri mungkin belum pernah mendengarkan ungkapan sayangku padamu. Tapi percayalah bahwa aku merasakan itu, dan aku yakin kamu pun juga begitu.

Semua terasa cepat, ketika mengingat dulu aku sempat memilikimu. Ketika aku sudah berhak untuk dipanggil dengan "mas". Walaupun waktu itu aku masih terlalu hijau untuk merasakan apa yang namanya kebahagiaan memilikimu. Perlahan kaki kecil kita mulai melangkah menapaki hidup ini. Tangan mungil kita mulai menyentuh harapan-harapan yang suatu saat akan kita wujudkan.

Tak banyak yang bisa kuingat ketika kita masih balita. Hingga suatu ketika aku mulai paham dengan apa yang bisa aku lihat, dengar, dan rasakan. Tanpa kamu sadari kamu lah yang membuatku hafal dengan ayat kursi dengan celoteh-celotehmu setiap hari. Tanpa kamu sadari hafalan itu akhirnya melekat dan menjadi sesuatu yang bermanfaat. Sampai-sampai aku bisa menghafalnya tanpa tahu sedikitpun bagaimana tulisannya. Itu karena rahmat Allah lewat tuturmu.

Lucunya kamu tidak akan pernah terlupa. Pernah dengan gelagat polosmu, kamu membuat orang lain tersenyum dengan menyimpan keheranan. Kamu terus mengucapkan doa-doa mujarab yang telah kamu hafal saat macet di hari lebaran. Khasnya suaramu memecah keheningan dan kejenuhan para penumpang waktu itu. Juga gigihnya hatimu telah meruntuhkan gigihnya teman-teman sebayamu yang enggan mengaji kala itu. Hingga guru ngaji kita berpikir, mungkin kamulah orang yang akan menjadi pelopor perubahan wanita di kampung kita. Karena magnetmu yang bisa memberikan gaya tarik pada teman-temanmu untuk bisa datang menimba ilmu yang mulia.

Teringat pula ketika kita menemui hari lahir kita, aku memberikanmu kejutan, kamu pun begitu padaku. masih teringat jelas ketika kamu membuat peta rahasia yang kemudian peta itu menunjukkan dimana kamu menyimpan hadiah untukku. Walaupun hadiah itu sangat sederhana, berupa alat tulis, gantungan kunci dan sejenisnya, namun yang lebih penting adalah sebuah makna. Makna yang tersimpan dalam lubuk terdalam mengisi jiwa.

Teringat ketika kita berjalan bersama menuju rumah Allah untuk memenuhi panggilannya. Tanganku melingkar di pundakmu. Seakan tak ingin waktu itu kan berlalu. Sungguh kamu benar-benar mengajakku untuk kebaikan. Ketika aku malas untuk itu, maka rasa malu padamu, itu yang akhirnya jadi alasan, dan akhirnya keterpaksaan itu mengantar pada sebuah keikhlasan. Karena mau atau tidak mau akulah yang akan menjadi salah satu teladan bagimu. Sungguh keistiqomahanmu waktu itu luar biasa. Bahkan ketika maghrib diselimuti hujan gerimis, kamu tetap berangkat memenuhi panggilan-Nya, mengalahkan aku yang memilih mendekam di rumah nyaman kita. Mungkin keindahan memenuhi panggilan-Nya waktu itu lebih nyaman bagimu daripada segalanya.

Kamu tidak pernah mau kalah denganku. Dalam hal akademik, kamu ingin membuktikan bahwa kamu benar-benar adikku yang bisa memberikan hasil terbaik dan membanggakan. Ketika belajar tak jarang aku memarahimu karena ketidaksabaranku mengajarmu, namun kamu sabar menghadapi emosiku. Hingga apa yang kamu inginkan untuk tak akan kalah dariku itu terwujud.

Hingga suatu malam, kita belajar bersama. Kamu memintaku untuk memperbaiki pensil trekpenmu. Kemudian dengan sedikit otak-atik, kelar sudah pensil itu. kuberikan padamu dan kamu balas dengan ucapan terima kasih, "suwun mas..." Sangat dalam kurasa terima kasih itu, hingga hatiku merasa ada yang lain disana. Belum pernah aku merasakan terima kasih sedalam itu. Kamu melanjutkan belajarmu dan saat itu aku lihat pekat wajahmu. Tanpa kamu sadari aku sudah jauh tenggelam dalam pandanganku.

Ternyata malam itu menjadi malam terakhir kebersamaan kita. Pagi ketika kamu hendak berangkat sekolah, aku masih memperhatikanmu. Ntah mengapa aku melakukan itu, padahal aku tidak pernah melakukannya sebelumnya. Kamu memompa sepedamu. terbesit aku ingin menolongmu, tapi kutangguhkan karena aku ingin mengajarkanmu bahwa kamu juga harus bisa melakukan sesuatu, tidak selalu meminta tolong padaku. Dan sepertinya waktu itu kamu paham maksudku hingga tak sepatah kata minta tolong terucap dari bibirmu.

Hingga hari itu matahari hampir tergelincir ke barat.... Ada seorang  adik kelasmu yang berlari ke rumah kemudian mengabarkan bahwa kamu kecelakaan. Sungguh tidak pernah kusangka bahwa hari itu adalah hari terakhir aku bertemu denganmu. Lemas tubuh ini, rasanya tak kuat menopang lagi kaki ini untuk berdiri. Namun inilah kenyataannya. perlahan bergetar di bibir, "Innalillahi wa inna ilaihi roji'un..." 150207 adalah hari yang menjadi batas pemisah ruang dan waktu antara aku dan kamu.

Ketika dimakamkan, aku ingi menjadi orang terdepan untuk mengantarmu. Kain kafan mulai dibuka di bagian kepala, aku melihat wajahmu dalam. Seakan kamu tidur nyenyak sekali, tenang, layaknya ketika kamu tidur karena kelelahan. Tanpa sadar perlahan air mataku kembali meleleh, tak kuasa aku menahan semua rasa itu. Hingga aku dibawa pergi oleh orang-orang di sekitarku kemudian ditenangkan oleh guru-gurumu yang dulu juga guru-guruku.

Semoga Allah mengampuni semua dosamu, menerima segala amal ibadahmu, memberikanmu tempat terbaik di sisi-Nya, dan menjadikanmu penolong bagi ibu dan bapak kelak yang telah mengikhlaskan kepergianmu dulu. Semoga kamu telah memaafkanku atas semua khilaf yang pernah kulakukan padamu. Dan terima kasih atas segala hal yang telah kamu berikan padaku. Semoga kelak kita dipertemukan di tenpat terindah di sisi-Nya, dikumpulkan pada golongan yang mendapat sambutan hangat dan syafaat junjungan alam yang kita rindukan, Rasulullah Muhammad SAW.

Kamu adalah adik terbaik yang tidak akan pernah tergantikan... Kamu adalah inspirator yang telah menginspirasiku... Kamu adalah motivator yang telah memotivasiku... Kamu adalah mutiara kecilku... Yang akan menjadi salah satu hal terindah dalam hidupku....

8 komentar:

  1. rif.. tulisan ini ditulis dengan hati..

    saya meneteskan air mata ketika membacanya..

    subhanllah..

    semoga kita semua nanti bertemu di JannahNya, amin..

    BalasHapus
  2. sing sabar Rif....
    aku yo terharu moco tulisan iki...,kelingan tanggal iku pas dino Kamis arep budal Gempa...

    BalasHapus
  3. Merinding baca tulisannya :)

    Semangat semangat :)

    BalasHapus
  4. tulisanmu membuatku meneteskan beberapa tetes air mata.. (ancen akune sing nangisan be'e yoo)
    tapi jujur, ak bisa merasakan kembali seperti perasaanmu saat itu,, *krn ak pernah mengalaminya sama sepertimu..

    insya Allah khusnul khotimah.. :')

    BalasHapus
  5. mbak nidiya: aamiin... #speechless

    BalasHapus
  6. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus

 
 
Blogger Templates