Social Icons

Minggu, 10 Juni 2012

Hidup dan Mati Kami Ada di Genggaman-Mu Ya Rabb

bismillah...

Selasa, 5 Juni 2012 tidak pernah terpikir olehku akan mengalami kejadian yang cukup banyak diambil hikmahnya. Pagi di hari Selasa itu aku ditelpon ibu, saling bertanya kabar dan terjadi sedikit percakapan tentang tanggal 6 Juni, sebuah tanggal dimana aku pertama kali menghirup udara dan indahnya dunia ini.

Siang harinya aku beranjak ke kampus, masih santai belum terpikir apapun. Hanya saja aku teringat hari itu aku harus pergi mengajar les privat di daerah Semolowaru Elok. Yah... aku lekatkan di ingatanku jam 17.00 aku harus sudah di rumah adik lesku untuk belajar. Sembari menunggu jam 5 sore, aku pergi ke jurusan sebelah untuk sekedar menyapa dan melihat kampanye calon ketua himpunan.

Di tengah-tengah riuh kampanye calon ketua himpunan tetangga, aku melihat jam di handphone: 16.47, sudah harus berangkat. Aku bergegas pergi ke parkir jurusan untuk mengambil motor dan segera pergi ke rumah adik lesku. Di tengah jalan, ada sms masuk. Dari ibu adik yang aku ajar. "Mas, jadi bisa ngajar?" Tangan kiriku segera mengetik balasan, "Iya bu, ini sedang di jalan"

Sampai di rumah tempat aku mengajar, ternyata rumah sepi, hanya terlihat 2 orang anak di dalam. 3 kali aku mengucap salam dan mengetuk pintu gerbang dengan kontak motorku. Tidak lama kemudian muncul adik yang akan aku ajar, Fadhil. Dia kelas 2 SMP, namun dia berbeda dengan teman-teman seumuran dia yang lain. Dia cenderung diam dan penakut. Ibu nya pernah bercerita bahwa si Fadhil memang demikian, 'berbeda' dengan yang lain sehingga aku harus memberikan perlakuan khusus padanya. Namun, spesialnya anak ini, dia berbakat dalam hal bermusik. Sekali mendengar sebuah lagu, dia bisa langsung menebak chord dari musik itu, tanpa sedikit pun memegang alat musik. Dan uniknya tebakannya itu BENAR.

Langsung aku masuk ke dalam rumah setelah dia mempersilakan, dan seperti biasa kami langsung naik ke lantai 2 rumah itu. Di lantai 2 ada studio musik ukuran 3x5 meter tempat kami les. Sebelum masuk ke studio musik itu ada sebuah ruangan sebagai tempat menyetrika dan menyimpan pakaian, sekaligus sebagai 'gudang'. Untuk naik ke lantai 2 kami harus menaiki tangga yang sangat sempit, tidak lebih dari 50 cm. Ibarat pakaian, tangga itu adalah pakaian yang press body.

Waktu terasa berlalu begitu cepat. Rasanya baru saja aku mengajar, sudah terdengar adzan maghrib. Yah, setelah aku memberikan sedikit materi tambahan dan latihan soal, aku izin ke Fadhil untuk pergi sholat terlebih dahulu. Biasanya setelah aku sholat, Fadhil gantian sholat sedangkan aku mengoreksi hasil pekerjaannya. *sebenarnya ingin sekali aku mengajak dia untuk sholat jama'ah, namun  apa daya, tempatnya tidak ada. Tempat sholat di rumah itu hanya sebuah papan seluas sajadah lebih luas sedikit.

Usai kami sholat, tiba-tiba lampu mati. Bukan karena pemadaman, tapi karena 'listriknya tidak kuat', bahasa kerennya "njegleg". Setelah itu dinyalakan lagi (sama adik yang paling kecil yang berada di lantai 1), tapi njegleg lagi. Seingatku hingga 3 atau 4 kali seperti itu. Hingga yang terakhir lama sekali tidak menyala lagi. Akhirnya aku minta Fadhil untuk melihat adiknya. Barangkali ada yang perlu dibantu. Namun, saat dia membuka pintu studio dia tersentak hingga tubuhnya mundur sambil berteriak.

"Astaghfirullah, astaghfirullah, astaghfirullah.... api Mas api... !!!"

Seketika aku berdiri dan membuka pintu. Seperti yang dilihat Fadhil, ada api yang sudah sangat besar memakan habis ruangan tempat menyimpan baju-baju itu. Suara gemuruh api dan angin menjadi satu membuat suasana panas itu menjadi semakin panas. Api yang memakan kayu-kayu dan benda yang ada disana terdengar seperti pepohonan yang akan roboh. Semakin lama semakin keras terdengar. Aku tutup lagi pintu itu hanya sekedar untuk memperlambat jalannya api masuk ke dalam ruangan studio musik. Perasaanku tidak karuan waktu itu. Namun ada satu hal yang sedikit membuatku lebih tenang. Istighfar yang senantiasa keluar dari bibir Fadhil.

Aku mencoba membuka pintu itu lagi untuk mencari celah, mungkin masih ada yang bisa digunakan untuk jalan lari. Dan... menurutku ada! Harapan itu muncul, aku gandeng tangan Fadhil. Tanpa aku lihat wajahnya, aku bertanya padanya.

"Dek, kamu bisa lari?"
"Ndak tau mas....."  Jawabnya ragu.

Mengetahui dia ragu, aku mengurungkan niatku untuk lari. Aku berpikir dua kali. Resikonya juga besar. Kalo nanti jatuh dari tangga bagaimana? Kalo nanti Ada balok kayu yang terbakar jatuh bagaimana? Namun, kalo tidak lari mau lewat mana lagi?

Pikiranku terus berkecamuk.Ditambah lagi, suara adik Fadhil yang berteriak di bawah terdengar semakin lama semakin keras.

"Tolong, tolong, tolong!!! Mas Fadhil, mas Fadhil....!!!"

Terlintas di pikiranku, jika aku bertindak sesuai prosedur keselamatan dalam sebuah musibah, maka aku harus menyelamatkan diri terlebih dahulu. Itu artinya aku harus meninggalkan Fadhil sendirian. Tapi... aku tidak bisa!!!

Kembali aku tutup lagi pintu itu. Sebentar kemudian aku buka lagi, kali ini aku ingin mencari celah kedua. Berharap api sudah semakin kecil. Namun sebaliknya, saat aku membuka pintu justru asap hitam masuk ke dalam studio. Membuat ruangan yang gelap tanpa ventilasi itu semakin pengap dan sesak. Aku mengajak Fadhil ke pojok studio menjauhi daerah yang sudah termakan api.

Aku tak pernah melepas gandengan tanganku ke lengan Fadhil. Sejumlah bayangan berkeliaran di otakku.

....Nanti kalo benar-benar sudah tidak bisa apa-apa, aku akan dekap Fadhil, aku gunakan tubuhku untuk melindungi tubuhnya.
....Wajah ibu yang hanya memiliki aku saat ini, akankah menemui kabar tidak mengenakkan tepat tanggal 6 Juni?
....Akankah aku berakhir disini??
....Akankah kawan-kawanku besok akan mendengar kabar aku telah tiada???

Pikiran-pikiran itu semakin memenuhi ruangan di otakku. Hampir saja aku putus asa. Di penghujung keputusasaanku, aku melihat sebuah kaca buram yang digunakan untuk menambah cahaya dalam ruangan. Ketika melihat itu, lantas keluar pertanyaan dari mulutku dengan setengah sadar.

"Dek, ada pintu lain ndak?"
"Ada mas, tapi gak pernah di pake, di ujung sana."

Mendengar jawaban itu, bergegas semangatku pulih, ada secercah harapan di dalam ruangan itu. Aku mencari-cari di daerah yang dimaksud Fadhil. Rupanya sudah ditutup dengan lapisan kedap suara dalam studio. Sehingga aku harus membongkarnya. Pelan tapi pasti, aku menemukan gagang pintu itu. Aku tarik ternyata masih terhalang karpet. Aku bereskan karpet yang cukup tebal itu agar pintu bisa segera dibuka. Setelah berhasil terbuka ternyata masih ada satu pintu lagi. Pintu ini terkunci!!! Aku berusaha mendobraknya. Dobrakan pertama gagal. Kembali terlintas bahwa harusnya aku bisa dengan mudah membuka pintu itu, gunakan positive thinking dan lanjutkan dengan jurus karate. Ya, dobrakan kedua dengan sekali tendang, dan dengan seizin Allah, alhamdulillah...  Pintu terbuka. Aku melongok keluar, disambut atap rumah tetangga Fadhil. Segera aku bantu turun si Fadhil. Tetangganya membantu dari bawah.

Ketika akan turun, aku teringat ada sesuatu yang tertinggal. Tas, jaket, dan laptop ku tertinggal di studio. Segera aku lari kembali lewat atap rumah, lewat pintu yang sudah jebol, dan bergegas aku mencari dan mengambil barang-barangku. Allah masih berkenan memberikan aku kesempatan hidup. Aku berhasil lolos dari jebakan api itu. Tak selang beberapa lama setelah aku turun, api sudah masuk ke dalam studio.

Aku menunggu di bawah, menenangkan Fadhil dan adiknya sembari menunggu Ibu dan Bapaknya datang. Syukur alhamdulillah, ujian ini telah terlewati. Sepulang dari kejadian itu, mulutku seakan terkunci. Aku teringat dosa-dosa yang pernah aku perbuat. Aku malu! Allah saja masih mau menyelamatkanku di penghujung keputus-asaannku. Lalu dimana aku menempatkan Allah di hatiku selama ini? Ya... Hidup dan Matiku (serta kita semua) ada di genggaman-Nya. Tak pantas kita sombong, tak pantas kita membanggakan dan memuji diri sendiri.

Kita telihat baik, karena memang Allah masih belum membuka kehinaan kita. Semoga kita bisa menjadi lebih baik, karena kita mau berbenah dari segala kelemahan dan kekurangan kita.

Wallohu a'lam bishshowab...

                                          
                                                             foto rumah pasca kebakaran

Beritanya ada disini.

3 komentar:

  1. Luar biasa...........
    subhanallah..........alhamdhulillah..........hanya Allah lah penolong kita,,,,,,,,,bagus mas....tulisannya........

    BalasHapus
  2. aamiin... terima kasih bu Diyah dan Umi hemmo...
    semoga panjenengan2 bisa memberikan sesuatu yg lebih menginspirasi... ^^

    BalasHapus

 
 
Blogger Templates